Muhammadiyah dorong pengembangan AI beretika dengan akar Islam. Prof Dadang jelaskan sejarah algoritma dari Al-Khawarizmi untuk kemajuan umat dan bang

Muhammadiyah dan Prof Dadang: AI Beretika Berakar dari Islam

DaerahBerita.web.id – Muhammadiyah kini semakin gencar memasuki ranah kecerdasan buatan (AI) dengan menegaskan bahwa AI bukanlah produk asing yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dalam pengajian resmi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dadang Kahmad menyatakan bahwa sejarah AI justru berakar dari peradaban Islam melalui karya Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, ilmuwan Muslim abad ke-9 yang dikenal sebagai bapak algoritma. Pernyataan ini mengajak umat Islam khususnya anggota Muhammadiyah untuk aktif mengembangkan teknologi AI yang beretika dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan demi kemajuan bangsa dan umat.

Pengajian bertema “Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan: Mengembangkan AI yang Berkah, Beretika, dan Berkemajuan” menjadi momen penting bagi Muhammadiyah untuk memetakan langkah strategis di dunia digital. Prof. Dadang menekankan bahwa literasi digital harus menjadi prioritas agar umat Islam tidak tertinggal dalam transformasi teknologi global. “AI bukan produk orang kafir seperti yang sering disalahpahami. Algoritma dan dasar-dasar teknologi ini memiliki akar kuat dalam tradisi ilmuwan Islam seperti Al-Khawarizmi,” ungkapnya dalam pengajian yang berlangsung di Jakarta.

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, yang namanya kini digunakan untuk istilah algoritma, adalah tokoh sentral dalam sejarah matematika dan ilmu komputer. Karyanya di bidang aljabar dan perhitungan numerik menjadi fondasi bagi konsep algoritma modern yang menjadi inti dari kecerdasan buatan. Dengan mengangkat sejarah ini, Muhammadiyah ingin menegaskan bahwa teknologi digital dapat dikembangkan secara harmonis dengan nilai-nilai Islam, bukan bertentangan.

Dalam praktiknya, Muhammadiyah sudah mulai mengambil langkah konkret melalui kolaborasi dengan sektor swasta. Salah satunya adalah kerja sama dengan Danone Indonesia dalam pembangunan SMK Muhammadiyah Kersamanah di Garut. Sekolah kejuruan ini fokus menyediakan program studi komputer dan teknologi informasi yang mengintegrasikan nilai-nilai agama. “Pembangunan SMK ini diharapkan selesai dalam waktu dekat dan menjadi pusat pengembangan pendidikan teknologi berbasis AI yang beretika,” kata Prof. Dadang.

Baca Juga  Pandangan Islam dalam Hubungan Internasional: Nilai dan Diplomasi

Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana Muhammadiyah mengkombinasikan pendidikan kejuruan dengan teknologi mutakhir dan nilai-nilai Islam. Melalui sinergi dengan Danone Indonesia dan dukungan Kementerian Agama, Muhammadiyah berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran etis dan spiritual dalam mengembangkan AI.

Tantangan literasi digital di kalangan umat Islam menjadi perhatian utama dalam pengembangan AI berlandaskan nilai Islam. Prof. Dadang memaparkan bahwa kurangnya pemahaman teknologi membuat sebagian umat rentan terhadap penyalahgunaan AI dan informasi digital yang tidak sesuai nilai agama. Oleh karena itu, Muhammadiyah mendorong agar pendidikan dan pelatihan literasi digital diprioritaskan di berbagai jenjang pendidikan, termasuk madrasah ibtidaiyah hingga perguruan tinggi seperti Universitas Al-Azhar Mesir yang juga menjadi inspirasi dalam mengembangkan kurikulum berbasis teknologi dan Islam.

Implikasi dari langkah Muhammadiyah ini sangat strategis bagi masa depan umat dan bangsa Indonesia. Dengan mengembangkan AI yang beretika dan selaras dengan nilai-nilai Islam, Muhammadiyah dapat menjadi pelopor pengembangan teknologi yang tidak hanya maju secara teknis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan spiritual. Hal ini sekaligus menjawab kekhawatiran publik tentang dampak negatif teknologi modern yang sering lepas kendali secara moral.

Pentingnya peran organisasi keagamaan dalam era digital semakin nyata. Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil posisi strategis sebagai pengawal pengembangan AI yang berlandaskan nilai keagamaan. Prof. Dadang mengajak seluruh stakeholder pendidikan, pemerintah, serta pelaku industri teknologi untuk mendukung dan mengawal inisiatif ini agar tercipta ekosistem AI yang berkah dan berkelanjutan di Indonesia.

Kolaborasi Muhammadiyah dengan berbagai pihak juga membuka ruang bagi inovasi pendidikan berbasis teknologi yang dapat menyiapkan generasi muda Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0. Dengan integrasi nilai Islam, diharapkan pengembangan AI tidak hanya mengejar kemajuan teknologi semata, tetapi juga membentuk karakter dan etika yang kuat dalam pemanfaatannya.

Baca Juga  Makna Mimpi Ayah Rabi'ah al-Adawiyah dan Warisan Sufinya

Ke depan, Muhammadiyah berpotensi menjadi model bagi organisasi keagamaan lain dalam menghadapi tantangan digitalisasi global. Dengan pendekatan yang mengedepankan sejarah ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi dan sinergi nyata dengan sektor swasta, Muhammadiyah membuktikan bahwa pengembangan AI yang beretika dan berlandaskan nilai agama bukan sekadar wacana, tetapi langkah strategis yang sedang dijalankan.

Aspek
Keterangan
Pihak Terlibat
Sejarah AI dalam Islam
Algoritma dikembangkan oleh Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, ilmuwan Muslim abad ke-9
PP Muhammadiyah, Sejarawan Islam
Pengajian PP Muhammadiyah
Topik “Masa Depan Muhammadiyah di Era AI” dengan fokus etika dan nilai Islam
Prof. Dadang Kahmad, PP Muhammadiyah
Kolaborasi Pendidikan
Pembangunan SMK Muhammadiyah Kersamanah dengan jurusan teknologi dan komputer
Danone Indonesia, Kemenag, Muhammadiyah Garut
Literasi Digital
Peningkatan pemahaman teknologi dan AI beretika untuk umat Islam
PP Muhammadiyah, Madrasah, Universitas Al-Azhar
Implikasi Pengembangan AI
AI berlandaskan nilai Islam dapat mendorong kemajuan teknologi beretika dan berkah
Seluruh stakeholder pendidikan, pemerintah, industri teknologi

Langkah Muhammadiyah ini menunjukkan bahwa pengembangan kecerdasan buatan tidak harus meninggalkan akar budaya dan agama. Sebaliknya, dengan mengedepankan nilai-nilai Islam dan sejarah ilmuwan Muslim, Muhammadiyah membuka jalan bagi teknologi yang bukan hanya maju, tapi juga beretika dan membawa manfaat luas. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi negara yang tidak hanya mengadopsi teknologi, tapi juga mampu mengembangkannya secara bertanggung jawab sesuai nilai keagamaan dan kemanusiaan.

Tentang Aditya Pranowo

Aditya Pranowo adalah jurnalis senior yang berpengalaman lebih dari 12 tahun dalam peliputan olahraga, khususnya sepak bola, bulu tangkis, dan olahraga nasional Indonesia. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dengan predikat Cum Laude, Aditya mulai berkarier di media cetak sebelum beralih ke platform digital, memberikan liputan mendalam dan analisis tajam seputar dunia olahraga. Selama karirnya, ia pernah menjadi redaktur senior di beberapa portal berita olahraga terkemuka dan dipercaya

Periksa Juga

Tabiat Perempuan yang Dikhawatirkan Rasulullah SAW & Solusinya

Tabiat Perempuan yang Dikhawatirkan Rasulullah SAW & Solusinya

Pelajari tabiat perempuan seperti amarah, riya, dan hasad yang dikhawatirkan Rasulullah SAW beserta cara menjaga hati dan keberkahan keluarga secara I