DaerahBerita.web.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, baru-baru ini menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan peran guru dalam sistem pendidikan Indonesia. Pernyataan ini disampaikan secara tegas dalam seminar nasional bertajuk “AI and Improving the Quality of Education for All” yang digelar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Abdul Mu’ti menekankan bahwa meskipun AI mampu mengolah data dan informasi dengan sangat cepat, teknologi ini tidak memiliki dimensi kemanusiaan, pengalaman, serta tanggung jawab moral yang menjadi inti peran guru dalam membimbing peserta didik.
Dalam acara yang dihadiri oleh para pakar pendidikan, akademisi, serta pejabat terkait, Menteri Abdul Mu’ti memberikan gambaran jelas tentang keterbatasan AI dalam ranah pendidikan. Menurutnya, AI memang unggul dalam hal efisiensi pengolahan data dan bisa menjadi alat bantu yang mendukung proses pembelajaran. Namun, guru tetap memiliki peran vital yang tak tergantikan karena mereka memegang fungsi kemanusiaan sebagai pendidik yang membangun karakter, empati, dan nilai moral peserta didik. “AI tidak bisa menggantikan guru karena AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak bisa mengambil keputusan moral, dan tidak bisa memahami konteks sosial secara menyeluruh seperti guru manusia,” ujar Abdul Mu’ti.
Seminar nasional yang digelar di UNY ini bertujuan membuka dialog konstruktif mengenai integrasi AI dalam pendidikan, sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terkait peran guru di era digital. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Stella Christie, turut memberikan pandangan yang sejalan dengan Menteri Abdul Mu’ti. Stella menekankan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan tenaga pendidik agar transformasi digital di sektor pendidikan dapat berjalan optimal tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Para peserta seminar juga membahas berbagai inovasi teknologi terbaru, termasuk pengenalan Google Gemini Arena yang diproyeksikan sebagai platform edukasi berbasis AI yang mendukung pembelajaran personalisasi.
Dalam konteks kebijakan, Kemendikdasmen telah menginisiasi sejumlah program strategis yang selaras dengan upaya integrasi teknologi tanpa mengurangi peran guru. Salah satunya adalah Program Revitalisasi Sekolah di Kabupaten Kudus yang menjadi pilot project untuk mengadopsi teknologi edukasi terbaru sambil memperkuat kapasitas tenaga pengajar. Program ini juga berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan vokasi dan akses terhadap teknologi digital yang inklusif. Menteri Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kebijakan Kemendikdasmen tidak hanya mendukung pengembangan teknologi, tetapi juga secara aktif melindungi hak dan kesejahteraan guru di tengah perubahan zaman. “Kami terus menyesuaikan regulasi agar guru dapat menjalankan tugasnya secara optimal dengan dukungan teknologi, tanpa kehilangan esensi kemanusiaan dalam pendidikan,” tambahnya.
Dari sisi pelatihan, Kemendikdasmen menyiapkan program peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi era digital. Pelatihan ini menitikberatkan pada kemampuan memanfaatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran sekaligus menjaga nilai-nilai etika dan tanggung jawab moral. Dengan demikian, guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengawal nilai-nilai pendidikan yang dibutuhkan peserta didik. Pakar pendidikan yang hadir dalam seminar menggarisbawahi bahwa integrasi AI harus dijalankan secara etis dan berorientasi pada pengembangan potensi manusia secara menyeluruh, sehingga tidak terjadi alienasi sosial atau ketergantungan berlebihan pada teknologi.
Sikap resmi pemerintah melalui Kemendikdasmen ini sekaligus menepis kekhawatiran publik yang selama ini beredar bahwa AI akan menggantikan guru secara total. Menteri Abdul Mu’ti menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu yang mempercepat dan mempermudah proses pembelajaran, bukan pengganti guru yang memiliki dimensi kemanusiaan dan tanggung jawab moral. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional secara merata dan berkelanjutan, terutama dalam menyongsong generasi emas Indonesia.
Ke depan, Kemendikdasmen berkomitmen untuk terus mengawal proses transformasi pendidikan berbasis teknologi dengan pendekatan yang inklusif dan berorientasi kemanusiaan. Langkah-langkah strategis seperti revitalisasi sekolah, pengembangan kurikulum berbasis teknologi, dan pelatihan guru diharapkan dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan secara signifikan. Menteri Abdul Mu’ti menutup pernyataannya dengan harapan agar teknologi AI menjadi mitra sejati guru dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter kuat dan memiliki daya saing global. “Teknologi harus menjadi pendukung, bukan pengganti guru, sehingga pendidikan kita tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan,” pungkasnya.
Aspek |
Peran AI |
Peran Guru |
|---|---|---|
Pengolahan Data |
Memproses data dan informasi secara cepat dan akurat |
Menginterpretasi hasil dan menyesuaikan sesuai kebutuhan siswa |
Dimensi Kemanusiaan |
Tidak memiliki empati dan pengalaman hidup |
Membangun karakter, empati, dan nilai moral siswa |
Tanggung Jawab Moral |
Tidak bisa mengambil keputusan moral |
Bertanggung jawab atas perkembangan dan kesejahteraan peserta didik |
Kemampuan Adaptasi |
Berbasis algoritma yang statis |
Mampu beradaptasi dengan konteks sosial dan emosional siswa |
Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti ini sekaligus menjadi titik terang dalam diskursus nasional mengenai peran AI di sekolah. Dengan menegaskan bahwa guru tetap menjadi pusat pendidikan, pemerintah membuka jalan bagi integrasi teknologi yang tidak menghilangkan sentuhan kemanusiaan. Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen akan terus mengembangkan regulasi dan program pelatihan yang mendukung guru bertransformasi menjadi pendidik digital yang berwawasan luas dan beretika, demi mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia.
Daerah Berita Berita Daerah Berita Informasi Terbaru