DaerahBerita.web.id – WhatsApp tengah mengembangkan fitur kontrol orang tua terbaru yang memungkinkan orang tua mengawasi dan mengelola akun anak secara lebih intensif. Fitur ini dirancang untuk menghubungkan akun orang tua dengan akun anak, memberikan akses pengaturan pengawasan aktivitas, komunikasi, dan konten yang diakses anak. Inovasi ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran global terkait keamanan digital anak dan potensi risiko psikologis akibat penggunaan chatbot AI serta platform digital lainnya.
Pengembangan fitur ini sejalan dengan tren perlindungan anak di ranah digital yang semakin mendapat perhatian, terutama di tengah maraknya interaksi anak dan remaja dengan teknologi seperti ChatGPT dan media sosial. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkomdigi) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mendorong platform digital untuk menyediakan alat pengawasan yang efektif demi menjaga keselamatan dan kesehatan mental anak di dunia maya. Fitur baru WhatsApp ini juga mempertimbangkan integrasi sistem verifikasi usia sebagai upaya mencegah akses anak ke konten yang tidak sesuai.
WABetaInfo mengungkapkan bahwa fitur kontrol orang tua WhatsApp akan memungkinkan orang tua memantau riwayat aktivitas anak, mengatur batasan konten, serta menerima notifikasi jika terdeteksi perilaku mencurigakan atau potensi risiko keamanan. Dengan cara ini, orang tua dapat melakukan pengawasan secara real-time tanpa mengganggu privasi anak secara berlebihan. Selain itu, WhatsApp tengah mengeksplorasi fitur verifikasi usia pengguna untuk memperketat akses ke platform mereka dan mengurangi risiko penyalahgunaan oleh pengguna di bawah umur.
Upaya WhatsApp tidak berdiri sendiri. Platform lain seperti YouTube dan Roblox sudah lebih dulu meluncurkan fitur kontrol orang tua yang memungkinkan pengelolaan aktivitas digital anak dengan fitur seperti pembatasan waktu layar dan pengelolaan konten tontonan. Roblox bahkan mewajibkan verifikasi usia untuk mengakses fitur chat, sebagai respons langsung terhadap regulasi perlindungan anak yang semakin ketat. Google Family Link juga menjadi contoh alat pengawasan digital yang memudahkan orang tua mengontrol perangkat dan akun anaknya secara komprehensif.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik Kemkomdigi, Alexander, menegaskan bahwa fitur pengawasan digital yang mudah digunakan sangat penting untuk memperkuat perlindungan anak di era digital. “Sistem klasifikasi usia dan kontrol orang tua harus menjadi instrumen utama dalam mengatur penggunaan media sosial oleh anak dan remaja,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers. Sementara itu, Meutya Hafid dari KemenPPPA menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan penyedia platform digital menjadi kunci utama dalam menghadirkan ruang digital yang aman dan sehat bagi anak-anak.
Para psikolog juga mengingatkan pentingnya pengawasan aktif oleh orang tua dalam penggunaan media sosial dan chatbot AI. Mereka menyoroti risiko psikologis seperti kecemasan, tekanan sosial, dan paparan konten negatif yang dapat berpengaruh pada perkembangan mental anak. “Penggunaan chatbot AI seperti ChatGPT harus dibarengi dengan pengawasan ketat agar anak tidak terjebak pada interaksi yang berpotensi membingungkan atau memicu stres,” kata seorang psikolog anak dari Jakarta. Kasus gugatan hukum terhadap ChatGPT di California menjadi contoh nyata risiko yang bisa muncul jika tidak ada pengawasan yang memadai.
Pengembangan fitur pengawasan WhatsApp ini menandai langkah maju dalam memperkuat perlindungan anak digital di Indonesia dan dunia. Dengan fitur ini, orang tua diharapkan dapat lebih proaktif dalam mengawasi aktivitas digital anak, mengurangi risiko penyalahgunaan, serta membimbing anak menggunakan teknologi secara sehat. Pemerintah dan platform digital juga diharapkan terus memperbarui regulasi dan teknologi pendukung agar perlindungan anak di dunia maya selalu relevan dengan perkembangan teknologi terkini.
Langkah selanjutnya adalah pengujian fitur ini secara menyeluruh sebelum peluncuran resmi, dengan melibatkan berbagai pihak termasuk komunitas orang tua, ahli keamanan digital, dan psikolog. Orang tua diimbau untuk mulai mengenal dan memanfaatkan fitur kontrol ini sebagai bagian dari edukasi digital keluarga. Di sisi lain, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, penyedia platform, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Platform |
Fitur Kontrol Orang Tua |
Verifikasi Usia |
Fokus Pengawasan |
Status Implementasi |
|---|---|---|---|---|
WhatsApp |
Pengawasan aktivitas, kontrol konten, notifikasi risiko |
Dalam pengembangan |
Aktivitas chat, konten, komunikasi |
Uji coba segera |
YouTube |
Manajemen riwayat tontonan, batas waktu layar |
Sudah ada |
Konten video, waktu akses |
Sudah diterapkan |
Roblox |
Pengawasan chat, batasan akses fitur |
Wajib verifikasi usia |
Interaksi sosial, chat |
Sudah diterapkan |
Google Family Link |
Kontrol perangkat, akun, aplikasi |
Sudah ada |
Penggunaan aplikasi dan perangkat |
Sudah diterapkan |
Fitur kontrol orang tua WhatsApp yang baru ini diprediksi akan menjadi model pengawasan digital yang menggabungkan kemudahan penggunaan dengan tingkat keamanan tinggi. Dengan mengintegrasikan teknologi verifikasi usia dan pengawasan real-time, WhatsApp berupaya menempatkan perlindungan anak sebagai prioritas utama di era digital yang semakin kompleks. Orang tua dan pemerintah di Indonesia pun semakin mendapat alat dan dukungan untuk menghadirkan ruang digital yang aman bagi generasi muda, sekaligus mengurangi dampak negatif teknologi, terutama yang berkaitan dengan chatbot AI dan interaksi media sosial.
Daerah Berita Berita Daerah Berita Informasi Terbaru