Tes Ante Mortem 8 Keluarga Korban Pesawat ATR di Sulsel

Tes Ante Mortem 8 Keluarga Korban Pesawat ATR di Sulsel

DaerahBerita.web.id – Keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, kini telah menjalani proses tes ante mortem dan pengambilan sampel DNA di Posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel, Makassar. Langkah ini menjadi bagian krusial dalam proses identifikasi jenazah korban yang ditemukan oleh tim SAR gabungan saat operasi pencarian masih berlangsung. Proses ini diharapkan mempercepat pencocokan data korban dan memastikan akurasi identifikasi secara ilmiah.

Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) tersebut hilang kontak saat melintasi wilayah pegunungan Bulusaraung dalam rute menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Pesawat membawa total 10 orang, terdiri dari tujuh kru, termasuk pilot Capt Andi Dahananto dan copilot Muhammad Farhan Gunawan, serta tiga penumpang yang salah satunya merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Setelah hilang kontak, tim SAR gabungan dari Basarnas, kepolisian, dan TNI langsung dikerahkan untuk melakukan pencarian di medan berat yang sulit dijangkau.

Satu jenazah telah ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat yang berada di kawasan Gunung Bulusaraung, namun pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan korban lain. Kondisi medan yang ekstrem dan cuaca kurang bersahabat menjadi tantangan utama bagi tim SAR. Menurut laporan terakhir dari Basarnas, pencarian tetap intensif dengan dukungan helikopter dan tim evakuasi darat.

Proses identifikasi korban kini menjadi fokus utama, di mana keluarga korban mulai berdatangan ke Makassar untuk memberikan sampel DNA dan informasi ante mortem. Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol Muhammad Haris, menjelaskan bahwa pengambilan sampel DNA dari keluarga korban sangat penting untuk mencocokkan data dengan jenazah yang ditemukan. “Sampel DNA keluarga menjadi kunci utama dalam proses identifikasi jenazah, terutama jika kondisi jenazah sudah tidak memungkinkan dikenali secara visual,” ujarnya.

Baca Juga  Operasi SAR ATR 42-500 Selesai, Semua Korban Ditemukan

Prosedur tes ante mortem ini meliputi pengambilan darah dan sampel lain dari keluarga dekat korban, yang kemudian akan dianalisis dan dicocokkan dengan sampel dari jenazah. Tim DVI Polda Sulsel yang telah berpengalaman dalam menangani kasus-kasus bencana udara dan kecelakaan massal, mengerahkan seluruh sumber daya untuk memastikan proses berjalan cepat dan akurat. Posko DVI yang berada di Makassar juga dilengkapi dengan fasilitas laboratorium sementara untuk mempercepat pemeriksaan DNA.

Kehadiran keluarga korban di posko ante mortem tidak hanya untuk pengambilan sampel, tetapi juga sebagai bagian dari dukungan psikologis dan komunikasi dari tim DVI. Salah seorang keluarga korban yang enggan disebutkan namanya menyampaikan, “Walaupun kami masih shock, kami percaya bahwa proses ini penting agar keluarga kami bisa mendapatkan kepastian dan jenazah yang ditemukan bisa segera diidentifikasi.” Pernyataan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap prosedur DVI yang berbasis teknologi dan keilmuan.

Operasi SAR yang dipimpin oleh Basarnas bersama TNI dan Polri terus berkoordinasi dengan tim DVI dan instansi terkait. Kombes Pol Muhammad Haris menambahkan, “Kami mengupayakan pencarian maksimal dengan tetap mengutamakan keselamatan tim di lapangan. Proses identifikasi yang akurat akan membantu keluarga korban mendapatkan kepastian dalam masa sulit ini.” Selain itu, posko ante mortem di Polda Sulsel juga menerima data tentang riwayat medis dan foto korban dari keluarga sebagai pelengkap proses identifikasi.

Kecelakaan pesawat ATR 42-500 ini menjadi peristiwa tragis yang mengingatkan pentingnya kesiapan prosedur Disaster Victim Identification di Indonesia, terutama di daerah dengan medan sulit seperti Sulawesi Selatan. Tim DVI yang berperan sentral dalam proses ini sudah memiliki pengalaman luas, termasuk dalam insiden kecelakaan udara sebelumnya dan bencana alam yang menimpa wilayah Indonesia.

Berikut ini adalah tabel yang merangkum tahapan utama dalam proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Sulsel:

Baca Juga  Suasana Haru Kedatangan Jenazah Pilot ATR 42-500 di Tangerang
Tahapan
Deskripsi
Pelaku
Pencarian Korban
Operasi SAR di lokasi jatuhnya pesawat di Gunung Bulusaraung
Basarnas, TNI, Polri
Pengumpulan Data Ante Mortem
Pengambilan sampel DNA dan data medis dari keluarga korban
Keluarga korban, Tim DVI Polda Sulsel
Pemeriksaan Jenazah
Pengumpulan sampel jenazah untuk tes DNA dan pemeriksaan forensik
Tim DVI dan laboratorium forensik
Pencocokan Data
Analisis dan pencocokan sampel DNA ante mortem dan post mortem
Tim DVI dan laboratorium
Konfirmasi Identifikasi
Penyerahan hasil identifikasi kepada keluarga dan pihak berwenang
Tim DVI, Polri, keluarga korban

Proses identifikasi korban kecelakaan ini tidak hanya berdampak pada penyelesaian kasus, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memberikan kejelasan dan kepastian bagi keluarga yang tengah berduka. Pemerintah bersama instansi terkait terus berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh, termasuk layanan psikologis dan bantuan administratif bagi keluarga korban.

Selanjutnya, tim SAR dan DVI akan terus bekerja secara intensif untuk menemukan dan mengidentifikasi seluruh korban yang belum ditemukan. Kombes Pol Muhammad Haris menyatakan bahwa mereka juga akan memantau perkembangan kesehatan dan kebutuhan keluarga korban selama proses berlangsung. “Kami pastikan setiap langkah dilakukan secara transparan dan profesional sesuai standar nasional dan internasional,” tambahnya.

Kecelakaan ini menjadi pelajaran penting bagi peningkatan keselamatan penerbangan di Indonesia, khususnya dalam pengoperasian pesawat di wilayah dengan rute dan medan berat. Sementara itu, keluarga korban dan masyarakat Sulawesi Selatan berharap proses evakuasi dan identifikasi dapat segera selesai agar mereka dapat memberikan penghormatan terakhir secara layak.

Dengan proses ante mortem yang sedang berjalan dan dukungan penuh dari berbagai pihak, harapan kuat muncul agar seluruh jenazah dapat teridentifikasi dengan cepat dan akurat. Ini juga menandai pentingnya sinergi antara tim SAR, DVI, dan keluarga korban dalam menghadapi situasi darurat yang penuh tantangan seperti kecelakaan pesawat ATR 42-500 ini.

Tentang Aditya Firmansyah

Aditya Firmansyah adalah Business Analyst berpengalaman dengan fokus mendalam pada industri properti di Indonesia. Lulusan Sarjana Sistem Informasi dari Universitas Indonesia (UI), Aditya telah berkarya selama lebih dari 8 tahun dalam menganalisis tren pasar properti dan memberikan insight strategis berbasis data untuk pengembangan proyek real estate. Karirnya dimulai di salah satu perusahaan konsultan properti terkemuka di Jakarta, tempat ia memimpin berbagai analisa feasibility dan riset pasar

Periksa Juga

Plafon Ambruk di SMPN 60 Surabaya, Evakuasi 11 Kelas Cepat

Plafon Ambruk di SMPN 60 Surabaya, Evakuasi 11 Kelas Cepat

Plafon ruang kelas SMPN 60 Surabaya runtuh akibat angin kencang, evakuasi 11 kelas dilakukan cepat tanpa korban luka serius. Simak langkah penanganann