DaerahBerita.web.id – Tim SAR gabungan terus mengintensifkan operasi evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Evakuasi dilakukan melalui jalur darat yang dipandu oleh warga lokal karena cuaca buruk yang menghalangi penggunaan helikopter. Sebanyak 34 personel gabungan dari Basarnas Makassar, Kodam XIV/Hasanuddin, TNI-Polri, dan relawan dikerahkan untuk menghadapi medan pegunungan yang sangat terjal dan kondisi cuaca ekstrem.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak dalam rute penerbangan Yogyakarta–Makassar ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung. Cuaca hujan lebat dan medan pegunungan yang curam mempersulit akses evakuasi udara sehingga tim SAR harus memanfaatkan jalur sempit yang biasa dilalui warga desa sekitar. Jalur ini dikenal jarang dilalui orang luar dan penuh tantangan, memaksa tim menggunakan teknik rappelling untuk mengevakuasi jenazah serta serpihan pesawat dari lokasi yang sulit dijangkau.
Operasi evakuasi mengandalkan koordinasi ketat antara Basarnas, Kodam XIV/Hasanuddin, TNI-Polri, dan relawan setempat. Kodam Hasanuddin menurunkan personel tambahan dari wilayah Maros untuk melakukan pencarian di bagian dasar jurang yang diduga menjadi lokasi serpihan pesawat lain. Perlengkapan khusus seperti tali dan alat rappelling disiapkan untuk membantu mengevakuasi korban dari tebing curam yang tidak dapat diakses dengan jalan kaki biasa. Sejumlah peralatan logistik juga dibawa untuk menghadapi intensitas hujan dan medan berlumpur.
Medan Gunung Bulusaraung sangat ekstrem, dengan lereng curam yang membuat jalur evakuasi darat tidak hanya sulit tetapi juga berbahaya. Hujan deras yang turun sejak beberapa hari terakhir memperburuk kondisi jalan setapak dan meningkatkan risiko longsor. Pihak Basarnas dan Kodam Hasanuddin menyatakan bahwa operasi evakuasi sangat bergantung pada perbaikan cuaca agar proses pencarian korban lain dapat berjalan lancar dan aman.
Hingga saat ini, tim SAR telah menemukan satu jenazah korban dan terus melakukan pencarian korban lain di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Diperkirakan serpihan pesawat tersebar hingga ke dasar jurang yang curam, sehingga pencarian harus dilakukan secara hati-hati dan sistematis. Tim SAR juga mengantisipasi adanya korban yang mungkin terjebak di lokasi terpencil dan membutuhkan teknik evakuasi khusus.
Keberhasilan operasi evakuasi ini sangat bergantung pada sinergi antara masyarakat lokal yang paham medan dan tim SAR profesional. Warga desa sekitar Gunung Bulusaraung berperan penting dengan memberikan jalur evakuasi yang aman dan menjadi pemandu bagi tim penyelamat. Kolaborasi ini menjadi contoh penting bagaimana peran komunitas lokal dapat mempercepat dan mempermudah proses pencarian di medan yang sulit.
Kecelakaan pesawat di daerah pegunungan dengan kondisi cuaca buruk menimbulkan tantangan besar bagi operasi SAR. Selain medan yang ekstrem, cuaca hujan lebat menghambat penggunaan helikopter evakuasi sehingga tim harus beradaptasi dengan metode darat dan teknik rappelling. Pengalaman dari operasi ini memberikan pelajaran penting mengenai kesiapan teknis dan taktik pencarian korban dalam situasi serupa di masa depan.
Rencana ke depan, tim SAR akan terus memonitor kondisi cuaca dan melakukan evaluasi jalur evakuasi terbaik agar proses pencarian dan evakuasi korban lain dapat berjalan tanpa hambatan berarti. Basarnas dan Kodam XIV/Hasanuddin menegaskan komitmen untuk melibatkan lebih banyak personel dan peralatan sesuai kebutuhan demi memastikan semua korban dapat ditemukan dan dievakuasi dengan aman.
Operasi yang tengah berjalan ini menjadi bukti nyata kompleksitas penyelamatan di medan pegunungan dan perlunya koordinasi lintas lembaga serta peran aktif masyarakat lokal. Keberhasilan evakuasi juga berdampak pada kesiapsiagaan dan respons terhadap kecelakaan penerbangan di wilayah dengan kondisi geografis dan cuaca yang menantang seperti Sulawesi Selatan.
Aspek |
Detail |
Keterangan |
|---|---|---|
Pesawat |
ATR 42-500 |
Indonesia Air Transport, rute Yogyakarta–Makassar |
Lokasi Kecelakaan |
Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep |
Medan pegunungan ekstrem, lereng curam |
Tim SAR |
34 personel gabungan |
Basarnas Makassar, Kodam XIV/Hasanuddin, TNI-Polri, relawan |
Metode Evakuasi |
Jalur darat, teknik rappelling |
Jalur warga lokal, medan sulit dan cuaca buruk |
Kendala |
Cuaca hujan lebat, medan terjal |
Helikopter evakuasi gagal, jalur udara tertutup |
Korban |
1 jenazah ditemukan |
Pencarian korban lain masih berlangsung |
Operasi evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung ini menjadi ujian berat bagi seluruh tim SAR dan aparat terkait. Dengan medan yang sulit dan cuaca yang tidak bersahabat, seluruh upaya difokuskan pada penyelamatan dengan memperhatikan keselamatan tim penyelamat dan penghormatan terhadap para korban. Ke depan, keberhasilan operasi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi penanganan kecelakaan serupa di wilayah pegunungan di Indonesia.
Daerah Berita Berita Daerah Berita Informasi Terbaru