DaerahBerita.web.id – Film horor terbaru berjudul Alas Roban siap tayang serentak di bioskop Indonesia mulai pertengahan Januari 2026. Diproduksi oleh Unlimited Production dan disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu, film ini mengangkat kisah mistis yang berakar dari legenda urban jalur angker Alas Roban di Jawa Tengah. Mengusung tema perjuangan seorang ibu menghadapi kekuatan gaib, Alas Roban menjanjikan sensasi horor yang tak hanya menakutkan tetapi juga sarat nilai emosional dan budaya lokal.
Cerita film ini berpusat pada Sita, seorang ibu tunggal yang pindah ke Semarang demi mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, di balik harapan itu, Sita justru terjebak dalam gangguan supranatural yang terkait dengan legenda jalan curam Alas Roban. Dalam usahanya menyelamatkan anaknya dari cengkeraman makhluk gaib bernama Dewi Raras, Sita mendapat bantuan dari Bu Emah, sosok penjaga spiritual yang memahami ritual dan mitos sekitar wilayah tersebut. Konflik antara dunia nyata dan dunia mistis ini dikemas dengan intensitas tinggi, memadukan horor klasik dengan drama keluarga yang menyentuh.
Michelle Ziudith memerankan tokoh utama Sita, menandai debutnya di genre horor dengan performa yang mendapatkan pujian karena mampu mengekspresikan ketakutan dan kegigihan seorang ibu dengan sangat natural. Bersama Michelle, film ini juga dibintangi oleh Fara Shakila, Rio Dewanto, Taskya Namya, dan Imelda Therinne. Naskah ditulis oleh Evelyn Afnilia, yang berhasil menyusun plot rapat dan atmosfer mencekam, sementara Hadrah Daeng Ratu membawa arahan sutradara yang fokus pada pengembangan karakter dan ketegangan psikologis. Kolaborasi ini menghadirkan perpaduan horor dan drama yang jarang ditemukan dalam film horor Indonesia terkini.
Promosi film Alas Roban telah dimulai dengan peluncuran trailer resmi yang mendapat respons positif dari penonton dan penggemar film horor. Roadshow promosi dilakukan di beberapa titik, salah satunya di Batang, lokasi yang dikenal dengan legenda Alas Roban. Sambutan antusias warga lokal memperkuat harapan bahwa film ini tidak hanya menarik penonton secara komersial, tetapi juga mampu mengangkat kearifan lokal dan mitos yang selama ini tersembunyi. Michelle Ziudith menyatakan rasa bangganya bisa menyelami karakter yang penuh emosi dan kompleksitas dalam film ini, sekaligus memperluas pengalaman aktingnya.
Fenomena Alas Roban sendiri merupakan salah satu jalan angker di Pantura Jawa Tengah yang dikenal luas dengan berbagai kisah mistis dan peristiwa supranatural. Jalur ini kerap menjadi sumber inspirasi cerita horor dan legenda urban di masyarakat setempat. Dalam film ini, unsur budaya dan spiritualitas Jawa Tengah dikemas secara otentik melalui karakter Bu Emah dan ritual yang mereka jalani. Hadrah Daeng Ratu mengungkapkan bahwa proses riset yang mendalam terhadap sejarah dan cerita rakyat Alas Roban menjadi kunci untuk menghadirkan nuansa horor yang tidak hanya menakutkan tetapi juga memiliki kedalaman makna.
Keunikan Alas Roban terletak pada pendekatan yang menggabungkan horor supranatural dengan kisah perjuangan seorang ibu. Tidak sekadar menampilkan hantu atau makhluk gaib, film ini mengangkat tema pengorbanan dan keikhlasan dalam menghadapi situasi genting yang melibatkan keluarga. Hal ini memberikan dimensi emosional yang lebih kuat dan dapat menarik penonton dari berbagai kalangan, bukan hanya penggemar genre horor.
Para pengamat perfilman Indonesia menyambut baik kehadiran Alas Roban sebagai representasi tren film horor tahun 2026 yang mulai mengedepankan cerita lokal dan karakter yang relatable. Dengan kualitas produksi yang meningkat serta sentuhan sutradara berpengalaman seperti Hadrah Daeng Ratu, film ini berpotensi mengisi kekosongan genre horor bermutu di bioskop nasional. Apalagi, dengan latar belakang cerita yang diambil dari mitos dan lokasi nyata di Jawa Tengah, Alas Roban juga membuka peluang bagi penonton untuk mengenal lebih dalam budaya dan sejarah daerah yang selama ini jarang diangkat ke layar lebar.
Penayangan Alas Roban di bioskop pada awal tahun depan akan menjadi momentum penting bagi perfilman horor Indonesia. Kesuksesan film ini tidak hanya diukur dari angka penonton, tetapi juga dari kemampuan untuk memperkaya khazanah cerita horor dengan sentuhan lokal yang autentik dan bermakna. Rumah produksi Unlimited Production dan Narasi Semesta serta Legacy Pictures yang terlibat dalam proyek ini berharap film ini dapat membuka jalan bagi produksi film horor lain yang mengangkat cerita-cerita tradisional Indonesia dengan pendekatan modern.
Kehadiran Alas Roban juga menjadi peluang bagi para aktor dan aktris muda seperti Michelle Ziudith dan Taskya Namya untuk menunjukkan kapasitas mereka di genre horor yang menuntut kemampuan akting intens dan penghayatan mendalam. Michelle sendiri mengaku bahwa proses syuting yang dilakukan di lokasi asli Semarang dan sekitar Alas Roban memberikan pengalaman baru yang menantang sekaligus memperkaya pemahaman budaya dan spiritualitasnya.
Dengan segala keunikan dan kekuatan narasi yang diusung, film Alas Roban tidak hanya menjadi tontonan horor semata, tetapi juga sebuah karya yang mengangkat nilai-nilai lokal dan kemanusiaan. Penonton diajak untuk tidak hanya takut dengan sosok gaib, tetapi juga merasakan perjuangan dan keteguhan hati seorang ibu dalam menghadapi situasi yang penuh ancaman.
Aspek |
Detail |
Keterangan |
|---|---|---|
Judul Film |
Alas Roban |
Film horor supernatural lokal |
Jadwal Tayang |
Mulai 15 Januari 2026 |
Penayangan serentak di bioskop Indonesia |
Sutradara |
Hadrah Daeng Ratu |
Fokus pada pengembangan karakter dan ketegangan psikologis |
Produksi |
Unlimited Production, Narasi Semesta, Legacy Pictures |
Kolaborasi rumah produksi lokal |
Pemeran Utama |
Michelle Ziudith (Sita), Rio Dewanto, Taskya Namya, Imelda Therinne |
Michelle Ziudith debut di genre horor |
Penulis Naskah |
Evelyn Afnilia |
Plot rapat, atmosfer mencekam |
Lokasi Syuting |
Semarang, Batang (Pantura Jawa Tengah) |
Lokasi asli dengan latar cerita lokal |
Plot Utama |
Perjuangan ibu melawan makhluk gaib Dewi Raras dengan bantuan ritual Bu Emah |
Konflik horor dan nilai keluarga |
Dengan jadwal tayang yang sudah pasti dan persiapan matang, Alas Roban diharapkan mampu menjadi tontonan wajib bagi penggemar film horor di Indonesia. Selain menawarkan ketegangan dan misteri, film ini juga menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dalam salah satu legenda urban Jawa Tengah yang selama ini hanya dikenal di kalangan terbatas. Penonton dapat menantikan pengalaman sinematik yang memadukan budaya lokal, cerita mistis, dan emosi manusiawi secara seimbang.
Sutradara Hadrah Daeng Ratu menegaskan bahwa Alas Roban bukan sekadar film horor biasa. “Kami ingin menyampaikan cerita yang bisa membuat penonton tidak hanya takut, tapi juga merasakan kekuatan cinta seorang ibu dan nilai-nilai spiritual yang ada di masyarakat Jawa Tengah,” ujarnya dalam wawancara eksklusif. Pendekatan ini menambah dimensi baru dalam perfilman horor Indonesia yang kerap fokus pada efek jump scare tanpa kedalaman cerita.
Penonton yang tertarik dengan film horor bernuansa budaya dan ingin menyaksikan debut Michelle Ziudith di genre horor sebaiknya menyiapkan diri untuk Alas Roban. Film ini menjadi salah satu rilis yang patut diperhitungkan pada awal tahun 2026, dengan potensi membuka jalan bagi karya-karya horor Indonesia yang lebih berkualitas dan berbasis cerita lokal yang kuat.
Daerah Berita Berita Daerah Berita Informasi Terbaru