DaerahBerita.web.id – Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, telah resmi ditutup setelah seluruh 10 korban berhasil ditemukan dan dievakuasi. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa seluruh jenazah baik kru maupun penumpang telah berhasil dievakuasi, menandai berakhirnya operasi pencarian yang berlangsung intensif selama tujuh hari. Penutupan operasi ini sekaligus menyiapkan langkah-langkah lanjutan berupa operasi kesiapsiagaan untuk menanggulangi kemungkinan temuan baru di lokasi kecelakaan.
Proses pencarian ini melibatkan tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Makassar, prajurit TNI, dan unsur terkait lainnya yang bekerja dengan sandi operasi “Sapu Bersih”. Korban yang ditemukan terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga pejabat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), termasuk pramugari Esther Aprilita S yang turut menjadi korban. Evakuasi korban dilakukan secara bertahap dan sistematis, dengan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan memimpin proses identifikasi jenazah menggunakan metode medis, sidik jari, dan data odontologi untuk memastikan setiap korban terkonfirmasi secara akurat.
Dalam konferensi pers yang digelar di Makassar, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa operasi SAR secara resmi ditutup setelah seluruh korban ditemukan. Ia menambahkan bahwa meskipun operasi pencarian utama telah selesai, Kantor SAR Makassar akan tetap menjalankan operasi kesiapsiagaan. “Kami akan terus bersiaga dan melanjutkan pemantauan di lokasi, guna mengantisipasi apabila ada temuan baru yang perlu ditindaklanjuti,” jelasnya. Selain itu, proses penyerahan black box pesawat kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah dilakukan sebagai bagian dari investigasi penyebab kecelakaan yang masih berjalan.
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan nomor registrasi PK-THT ini terjadi di wilayah pegunungan Gunung Bulusaraung, yang dikenal sebagai medan sulit dan rawan kecelakaan penerbangan. Pesawat tersebut dalam perjalanan dinas membawa kru serta pejabat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan saat mengalami kecelakaan. Peristiwa ini menambah catatan serius terkait keselamatan penerbangan di wilayah Sulawesi Selatan, yang selama ini dikenal memiliki tantangan geografis dan cuaca yang berpengaruh terhadap operasional penerbangan.
Dengan selesainya operasi SAR, fokus kini beralih ke investigasi komprehensif yang dilakukan oleh KNKT untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Tim investigasi KNKT tengah menganalisis data dari black box, termasuk rekaman suara kokpit dan data penerbangan, untuk menentukan faktor penyebab dan memberikan rekomendasi keselamatan agar insiden serupa tidak terulang. Sementara itu, Basarnas dan tim SAR tetap mempertahankan kesiapsiagaan di lokasi untuk merespon jika ditemukan temuan baru, sekaligus memberikan dukungan teknis kepada pihak keluarga korban.
Keluarga korban dan masyarakat diharapkan dapat menerima informasi resmi dan transparan dari pihak berwenang agar tidak muncul spekulasi yang dapat memperkeruh situasi. Kepala Basarnas juga mengimbau seluruh pihak untuk menghormati proses identifikasi dan evakuasi yang telah berjalan dengan profesional dan penuh kehati-hatian. “Kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dalam operasi SAR dan mendukung proses pemulihan keluarga korban secara penuh,” ujarnya.
Penutupan operasi SAR ini menandai babak akhir dari upaya pencarian yang melelahkan namun berhasil menyelamatkan ketegasan dan kejelasan dalam penanganan kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung. Ke depan, hasil investigasi KNKT akan menjadi acuan penting bagi otoritas penerbangan dan institusi terkait dalam meningkatkan standar keselamatan penerbangan nasional, terutama di daerah-daerah dengan tantangan geografis seperti Sulawesi Selatan.
Aspek |
Detail |
Keterangan |
|---|---|---|
Jenis Pesawat |
ATR 42-500 |
Dimiliki Indonesia Air Transport (IAT) |
Lokasi Kecelakaan |
Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan |
Medan pegunungan dengan kondisi sulit |
Jumlah Korban |
10 orang (7 kru, 3 penumpang) |
Termasuk pramugari dan pejabat KKP |
Durasi Operasi SAR |
7 hari |
Operasi “Sapu Bersih” oleh Tim SAR Gabungan |
Proses Identifikasi |
Metode medis, sidik jari, odontologi |
Dipimpin Tim DVI Polda Sulsel |
Penutupan Operasi |
Resmi oleh Kepala Basarnas |
Operasi kesiapsiagaan tetap berjalan |
Investigasi |
Penyerahan black box ke KNKT |
Analisis rekaman suara dan data penerbangan |
Penutupan operasi SAR ini sekaligus menjadi titik fokus bagi koordinasi lintas instansi, antara Basarnas, KNKT, KKP, dan aparat keamanan, untuk memastikan seluruh aspek keselamatan dan penanganan pascakecelakaan berjalan optimal. Dengan pengalaman dan keahlian yang dimiliki, tim SAR dan DVI telah menunjukkan profesionalisme tinggi dalam menghadapi tantangan medan dan kondisi korban yang sulit diakses. Masyarakat dan keluarga korban diharapkan dapat terus mempercayai proses resmi yang sedang berjalan, serta bersama-sama mendukung upaya peningkatan keselamatan penerbangan nasional.
Daerah Berita Berita Daerah Berita Informasi Terbaru