DaerahBerita.web.id – Banjir bandang yang baru-baru ini melanda Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, telah menimbulkan dampak besar dengan korban jiwa sebanyak 14 orang dan puluhan rumah hilang terseret arus. Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk mempercepat penanganan bencana yang terjadi di beberapa kecamatan, termasuk Siau Timur, Siau Timur Selatan, dan Siau Barat. Selain korban meninggal, terdapat 25 orang luka-luka dan satu orang masih dinyatakan hilang, sementara 108 jiwa dari 35 kepala keluarga mengungsi akibat kerusakan rumah dan infrastruktur yang parah.
Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan harta benda, tetapi juga menimbulkan hambatan besar pada akses jalan dan fasilitas umum akibat tertutupnya jalur oleh material batu, kayu, dan lumpur. Upaya evakuasi dan pencarian korban dilakukan secara intensif oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sitaro bersama TNI AD, dengan dukungan penuh dari Kodam Merdeka dan BNPB. Kepala BPBD Joickson Sagune menyatakan bahwa kondisi di lapangan masih sangat sulit karena banyaknya material yang menimbun jalan dan rumah warga, sehingga proses evakuasi harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati.
Banjir bandang yang terjadi di Kepulauan Sitaro ini merupakan fenomena hidrometeorologi yang dipicu oleh curah hujan tinggi dalam waktu singkat, menyebabkan aliran air deras membawa material berat seperti batu dan kayu. Dampak terparah tercatat di Kecamatan Siau Timur dan Siau Timur Selatan, di mana 21 rumah dilaporkan hilang terbawa arus, sementara 64 unit rumah lainnya mengalami rusak berat hingga ringan. Kepala BPBD Joickson Sagune mengungkapkan, “Kami masih melakukan pencarian terhadap satu warga yang hilang dan terus berkoordinasi dengan semua pihak untuk memastikan keselamatan warga dan memulihkan kondisi wilayah terdampak.”
Selain korban jiwa dan kerusakan rumah, bencana ini juga menyebabkan terganggunya aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Jalan utama dan akses ke fasilitas umum seperti sekolah dan pusat kesehatan tertutup material longsor dan banjir, sehingga mobilitas warga sangat terbatas. Pemerintah daerah melalui Bupati Cinthya Ingrid Kalangit menegaskan komitmennya dalam penanganan darurat dan pemulihan pascabencana. “Kami telah mengerahkan seluruh sumber daya untuk melakukan evakuasi dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. Pemerintah pusat dan BNPB juga telah siap mendukung upaya pemulihan jangka panjang,” ujar Bupati Cinthya.
Penetapan status tanggap darurat selama 14 hari oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro bertujuan untuk memberikan waktu dan ruang bagi koordinasi terpadu antara BPBD, TNI AD, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga kemanusiaan. Kodam Merdeka juga mengerahkan personel dan alat berat untuk mempercepat pembersihan material batu dan kayu yang menutup akses jalan utama, khususnya di Kecamatan Siau Barat yang menjadi salah satu wilayah terdampak parah. Kepala Kodam Merdeka dalam pernyataannya menyebutkan, “Kami berkomitmen membantu proses evakuasi dan pemulihan infrastruktur agar kehidupan masyarakat segera kembali normal.”
Berbagai tantangan di lapangan masih terus dihadapi, seperti cuaca yang belum sepenuhnya membaik dan kondisi medan yang sulit dijangkau. Namun, koordinasi antara BPBD, TNI, dan pemerintah daerah berjalan efektif untuk memastikan bantuan logistik dan medis dapat tersalurkan dengan baik. Sebagai bagian dari mitigasi bencana, pemerintah daerah juga tengah melakukan evaluasi terhadap sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat agar kejadian serupa dapat diminimalisir di masa depan.
Kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang ini bukan hanya berdampak pada fisik, tetapi juga menyebabkan gangguan psikologis bagi warga terdampak. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan harta benda, sehingga kebutuhan akan tempat pengungsian yang layak dan bantuan psikososial menjadi prioritas. GMIST Bethbara dan sejumlah organisasi sosial lokal telah terlibat dalam memberikan dukungan kemanusiaan dan trauma healing bagi para pengungsi.
Berikut gambaran data dampak banjir bandang di Kepulauan Sitaro secara rinci:
Kategori |
Jumlah |
Keterangan |
|---|---|---|
Korban meninggal |
14 orang |
Disertai 1 orang hilang |
Korban luka-luka |
25 orang |
Dirawat di fasilitas kesehatan setempat |
Pengungsi |
108 jiwa (35 KK) |
Mengungsi di lokasi pengungsian darurat |
Rumah hilang |
21 unit |
Terbawa arus banjir |
Rumah rusak |
64 unit |
Rusak berat hingga ringan |
Jalan tertutup material |
Beberapa titik |
Batu, kayu, lumpur |
Upaya pemulihan segera dilakukan dengan prioritas membuka akses jalan dan menyediakan bantuan darurat seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan. Kepala BPBD Joickson Sagune menambahkan bahwa koordinasi dengan BNPB terus berjalan untuk mendapatkan dukungan logistik tambahan dan tenaga ahli pemulihan bencana. “Kami berharap situasi segera membaik dan warga dapat kembali ke rumah masing-masing dengan aman,” ujarnya.
Bupati Cinthya Ingrid Kalangit juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat muncul kembali, mengingat kondisi cuaca yang masih tidak menentu. Pemerintah daerah berencana mengadakan sosialisasi mitigasi bencana dan memperkuat sistem peringatan dini di seluruh kecamatan terdampak. “Kami berkomitmen membangun kembali Sitaro yang lebih tangguh dan siap menghadapi bencana,” tegas Bupati.
Banjir bandang ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan sinergi antar lembaga dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang rawan terjadi di Sulawesi Utara. Dengan dukungan penuh dari Kodam Merdeka, BNPB, dan berbagai pihak terkait, Kabupaten Kepulauan Sitaro berharap dapat segera pulih dan membangun ketahanan masyarakat untuk menghadapi tantangan iklim ke depan. Pemerintah daerah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan memperkuat budaya mitigasi bencana agar dampak bencana serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.
Daerah Berita Berita Daerah Berita Informasi Terbaru