Kerusakan Tanggul Sungai Bremi Pekalongan Picu Banjir Parah

Kerusakan Tanggul Sungai Bremi Pekalongan Picu Banjir Parah

DaerahBerita.web.id – Tanggul Sungai Bremi di Pekalongan baru-baru ini mengalami kerusakan parah sepanjang sekitar 35 meter yang mengakibatkan banjir setinggi 50 hingga 80 cm merendam permukiman di Kelurahan Pabean, khususnya di RW 12. Peristiwa ini memaksa sekitar 300 kepala keluarga terdampak dan sekitar 100 warga harus mengungsi ke tempat aman seperti gedung sekolah dan kantor kelurahan. Pemerintah Kota Pekalongan langsung mengerahkan upaya perbaikan tanggul dengan koordinasi ketat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan aparat setempat agar banjir tidak meluas dan dampak lebih besar bisa segera diantisipasi.

Kerusakan tanggul yang menjadi penyebab utama banjir ini terjadi tanpa disertai hujan atau cuaca mendung pada saat kejadian. Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa faktor utama jebolnya tanggul adalah tekanan air yang meningkat akibat curah hujan tinggi di hari-hari sebelumnya dan gelombang rob yang merambat ke daerah pesisir Kota Pekalongan. Wali Kota Pekalongan, H Achmad Afzan Arslan Djunaid, menegaskan bahwa kerusakan sepanjang 35 meter ini harus segera ditangani agar tidak memperparah kondisi banjir. “Kami fokus menutup kerusakan tanggul malam ini juga, agar air tidak terus meluap dan mengganggu aktivitas warga,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Situasi banjir cukup parah di RW 12 Kelurahan Pabean, Kecamatan Pekalongan Utara, di mana ratusan rumah warga terendam air dengan ketinggian bervariasi, antara 50 sampai 80 cm. Serka Aloisius Jawa, Babinsa Padukuhan Kraton yang turut membantu evakuasi, menyampaikan bahwa warga yang terdampak mayoritas adalah keluarga dengan anak-anak dan lansia sehingga prioritas utama adalah pengungsian ke tempat aman. “Kami bersama BPBD dan aparat kelurahan bergerak cepat untuk membantu warga keluar dari rumah dan memastikan mereka mendapat penanganan sementara,” jelasnya. Kegiatan ekonomi warga dan proses belajar mengajar di sekolah setempat juga mengalami gangguan signifikan akibat genangan air yang meluas.

Baca Juga  Sahrin Hamid Mundur dari Jakpro, Fokus Pimpin Partai Gerakan Rakyat

Pemerintah Kota Pekalongan melalui BPBD bergerak cepat untuk melakukan mitigasi dan penanggulangan darurat. Selain perbaikan tanggul, mereka juga mengerahkan tim untuk menyebarkan bantuan logistik dan membuat posko pengungsian di gedung sekolah dan kantor kelurahan. Kepala BPBD Kota Pekalongan menyatakan bahwa kondisi tanggul yang rentan dan minimnya infrastruktur penahan rob secara optimal menjadi faktor penyebab utama kerusakan. “Tanggul kita memang sudah tua dan butuh penanganan serius agar bisa menahan tekanan air yang meningkat dari hujan dan rob,” ujarnya. Pemerintah daerah juga memantau kondisi cuaca dan pasang laut secara intensif untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.

Riwayat banjir di Pekalongan memang sudah menjadi catatan penting khususnya di wilayah pesisir dan sekitar Sungai Bremi. Kota ini termasuk daerah rawan bencana banjir rob yang kerap terjadi saat musim penghujan dan pasang laut tinggi. Kerentanan infrastruktur tanggul yang ada menambah risiko terhadap luapan air sungai dan rob dari laut. Meski telah ada berbagai upaya mitigasi, kejadian seperti jebolnya tanggul ini menunjukkan bahwa perbaikan dan penguatan infrastruktur harus terus menjadi prioritas utama. Pemerintah Kota Pekalongan sendiri telah mengajukan beberapa program perbaikan tanggul dan pengembangan sistem peringatan dini banjir untuk mengurangi dampak bencana di masa depan.

Tanggul Sungai Bremi yang jebol ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak terkait bahwa kesiapsiagaan harus ditingkatkan. Jika perbaikan tanggul tidak segera dan tuntas dilakukan, risiko banjir berulang masih sangat tinggi terutama saat musim hujan dan gelombang rob kembali naik. Pemantauan yang lebih ketat serta peningkatan kualitas tanggul dengan material yang lebih kuat dan sistem drainase yang optimal menjadi keharusan. Wali Kota Pekalongan juga mengajak masyarakat untuk selalu waspada dan melaporkan kondisi tanggul atau genangan air yang mencurigakan kepada aparat setempat agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Baca Juga  DPR Batal Bahas RUU Pemilu Omnibus Law, Apa Dampaknya?

Selain itu, pemerintah daerah juga menyoroti pentingnya sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada warga sebagai upaya mengurangi risiko korban dan kerugian materi. Pendampingan warga dalam evakuasi dan bantuan logistik menjadi bagian dari strategi penanganan darurat. Ke depan, sinergi antar instansi pemerintah, aparat keamanan seperti Babinsa, serta partisipasi aktif masyarakat diharapkan mampu membangun sistem mitigasi banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan. Harapan bersama adalah agar Pekalongan bisa segera pulih dari dampak banjir ini dan memperkuat daya tahan menghadapi ancaman bencana alam di masa depan.

Aspek
Detail
Data/Informasi
Lokasi Kerusakan
Tanggul Sungai Bremi, Kelurahan Pabean, RW 12
Panjang tanggul jebol sekitar 35 meter
Dampak Banjir
Ketinggian air
50-80 cm
Jumlah kepala keluarga terdampak
±300 KK
Jumlah pengungsi
±100 orang
Faktor Penyebab
Intensitas hujan sebelumnya dan gelombang rob
Tekanan air meningkat, tanggul rentan rusak
Upaya Penanganan
Perbaikan tanggul dan evakuasi
Penutupan lubang tanggul malam hari, pengungsian di gedung sekolah dan kelurahan
Pihak Terlibat
Wali Kota, BPBD, Babinsa, aparat kelurahan
Koordinasi dan bantuan langsung di lapangan

Kejadian jebolnya tanggul Sungai Bremi ini menjadi sorotan penting dalam upaya pengelolaan risiko bencana di Pekalongan. Kualitas infrastruktur yang semakin ditingkatkan, bersama sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat, menjadi kunci keberhasilan mitigasi banjir. Pemerintah daerah berkomitmen menuntaskan perbaikan dan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang. Warga pun diharapkan terus aktif berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dan melaporkan kondisi kritis agar respons cepat dapat dilakukan. Dengan langkah terpadu, Pekalongan bisa lebih siap menghadapi tantangan banjir dan rob yang menjadi ancaman rutin di wilayah pesisir Jawa Tengah.

Tentang Rahmat Aditya Pranata

Rahmat Aditya Pranata adalah Business Analyst berpengalaman dengan lebih dari 10 tahun khusus di industri startup Indonesia. Ia menyelesaikan studi Sarjana Sistem Informasi di Universitas Indonesia dan meraih sertifikasi CBAP (Certified Business Analysis Professional) pada tahun 2015, yang menegaskan keahliannya dalam analisis bisnis dan pengembangan produk startup. Selama kariernya, Rahmat telah menjadi bagian penting dalam beberapa startup teknologi yang sukses, membantu mengoptimalkan proses

Periksa Juga

Plafon Ambruk di SMPN 60 Surabaya, Evakuasi 11 Kelas Cepat

Plafon Ambruk di SMPN 60 Surabaya, Evakuasi 11 Kelas Cepat

Plafon ruang kelas SMPN 60 Surabaya runtuh akibat angin kencang, evakuasi 11 kelas dilakukan cepat tanpa korban luka serius. Simak langkah penanganann