DaerahBerita.web.id – Banjir bandang disertai longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah sejak akhir November lalu masih meninggalkan dampak parah. Lumpur tebal masih menutupi permukiman warga di Kecamatan Tukka dan desa-desa sekitar, menyulitkan aktivitas harian dan pemulihan. Belum reda, banjir susulan kembali terjadi awal Januari ini, memperparah kondisi dengan sungai Sigultom yang meluap dan akses jalan yang tertutup lumpur. Pemerintah daerah bersama Tim SAR dan Polda Sumut terus berupaya menanggulangi bencana melalui pembersihan, normalisasi sungai, serta penyediaan air bersih untuk warga terdampak.
Banjir bandang yang terjadi akibat hujan deras berkepanjangan mengakibatkan meluapnya Sungai Sigultom dan longsor di beberapa titik rawan di Kecamatan Tukka dan Desa Hutanabolon. Ketinggian air di beberapa lokasi sempat mencapai lebih dari satu meter, menyebabkan rumah-rumah terendam dan jalan utama tertutup lumpur. Data resmi BNPB dan BPBD Sumut mencatat hingga kini korban meninggal dunia mencapai 12 jiwa, dengan ratusan warga mengalami luka-luka dan ribuan harus mengungsi di pos pengungsian darurat. Lumpur yang mengendap memenuhi halaman rumah dan jalan, menimbulkan kesulitan besar dalam proses evakuasi dan pemulihan.
Kondisi banjir susulan yang terjadi beberapa minggu setelah kejadian utama menimbulkan kekhawatiran warga. Hujan yang masih intens menyebabkan beberapa titik longsor kecil kembali aktif, sementara volume air sungai tetap tinggi. Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menginstruksikan normalisasi aliran Sungai Sigultom dan pembangunan tanggul di bantaran sungai sebagai langkah mitigasi banjir. “Kami fokus pada pengerukan sungai dan memperkuat tanggul untuk mengurangi risiko banjir susulan. Keselamatan warga adalah prioritas utama kami,” ujar Masinton.
Tim SAR bersama aparat Polda Sumut dan warga secara bergotong royong melakukan pembersihan lumpur dan membuka kembali saluran drainase yang tersumbat. Selain itu, BPBD Sumut dan Satgas Gulbencal Kodam I Bukit Barisan memasang filter air Nanotec pada sumur bor yang dibangun untuk menyediakan air bersih bagi pengungsi dan warga terdampak. Filter ini penting karena lumpur dan material longsor telah mencemari sumber air tanah. Pemasangan filter air dan sumur bor ini bertujuan menjamin ketersediaan air bersih guna mencegah penyakit yang biasa muncul pascabencana.
Pengungsi di beberapa titik pengungsian masih mencapai ribuan jiwa, dengan kondisi yang memprihatinkan. Warga mengeluhkan ketidaknyamanan akibat cuaca dingin dan minimnya fasilitas pendukung. Akses jalan yang tertutup lumpur juga menyulitkan distribusi bantuan dan mobilisasi tim relawan. “Kami khawatir banjir susulan dan longsor lagi karena hujan belum berhenti. Kami sangat berharap pemerintah bisa segera memulihkan kondisi dan memberikan bantuan lebih banyak,” kata salah satu warga Desa Tukka yang memilih mengungsi di tenda pengungsian.
Kondisi lingkungan pascabencana juga menjadi perhatian serius. Lumpur yang menutupi permukiman tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. BPBD Sumut bekerja sama dengan Dinas Kesehatan melakukan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan warga, khususnya terkait risiko penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan. Pemerintah daerah juga mengupayakan pembersihan lingkungan secara menyeluruh agar kualitas hidup warga dapat segera pulih.
Aspek |
Data & Kondisi |
Upaya Penanggulangan |
|---|---|---|
Korban |
12 meninggal, ratusan luka, ribuan pengungsi |
Evakuasi, pengungsian dan layanan kesehatan |
Lumpur |
Menutupi rumah dan jalan, sulit akses |
Gotong royong pembersihan, normalisasi sungai |
Air Bersih |
Sumber air tercemar lumpur dan longsor |
Filter air Nanotec dan sumur bor baru |
Infrastruktur |
Jalan tertutup lumpur, tanggul rusak |
Pembangunan tanggul dan perbaikan jalan |
Penanganan bencana di Tapanuli Tengah menuntut koordinasi intensif antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat. Bupati Masinton Pasaribu menekankan pentingnya mitigasi berkelanjutan: “Selain pemulihan pascabencana, kami juga fokus pada penanggulangan risiko jangka panjang. Normalisasi sungai dan pembangunan tanggul harus berkesinambungan agar warga terlindungi dari bencana berulang.” BNPB memberikan dukungan logistik dan teknis guna mempercepat pemulihan dan mitigasi.
Dampak cuaca ekstrem yang masih berlangsung menjadi tantangan utama. Warga sangat bergantung pada informasi cuaca dan kesiapsiagaan yang terus diperbarui oleh pemerintah daerah. Sementara itu, kebutuhan akan bantuan pangan, kesehatan, dan perbaikan fasilitas pengungsian tetap menjadi prioritas utama.
Kasus banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam di wilayah rawan. Kejadian ini juga menegaskan perlunya investasi dalam infrastruktur mitigasi dan sistem peringatan dini yang efektif. Dengan sinergi antara pemerintah, aparat SAR, dan masyarakat, diharapkan proses pemulihan dapat berjalan cepat sekaligus mengurangi risiko bencana serupa di masa depan.
Upaya yang dilakukan sejak awal hingga kini menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi bencana sekaligus melindungi warga. Meski lumpur masih menyelimuti permukiman dan akses jalan, langkah normalisasi sungai dan pemasangan filter air Nanotec menjadi solusi nyata untuk mengatasi dampak kesehatan dan lingkungan. Harapan bersama tertuju pada membaiknya cuaca dan kelancaran proses rehabilitasi agar kehidupan masyarakat Tapanuli Tengah dapat kembali normal.
Daerah Berita Berita Daerah Berita Informasi Terbaru